Skip to main content

Akhir dari trimester 3 (My first pregnancy part 5)

Hiii,
Finally, masa-masa kehamilanku ini sebentar lagi akan berakhir. Nggak sabar rasanya pengen gendong babyku hihi. 

Di post terakhir, aku kontrol ke dokter pada usia kandungan 26 minggu dan disarankan untuk kembali kontrol pada usia kandungan 30 minggu. Tapi karena waktunya tidak pas dengan jadwal libur suamiku, akhirnya aku baru bertemu dokter lagi di usia kandungan 32 minggu. Saat itu, kebetulan dokter Arina sedang tidak praktek karena ada jadwal operasi mendadak. Akhirnya pada hari itu, aku kontrol ke dokter Dian Ambarwati. Dokter yang pertama kali aku temui pada awal kehamilanku. Dokter Dian ini baik dan sabar sekali. Karna usia kandunganku sudah memasuki minggu ke-32, jadi sudah banyak yang bisa dilihat pada saat USG. Tadinya aku akan melakukan USG 4 Dimensi, namun dokter Dian bilang bahwa bayiku sudah besar dan posisi mukanya sudah terlalu dekat dengan dinding rahim, sehingga tidak akan terlihat jelas jika di USG 4 dimensi. Akhirnya aku melakukan USG 2 dimensi seperti biasa. Banyak yang aku minta pada saat kontrol hari itu. Dari mulai minta diperlihatkan muka, jenis kelamin, menghitung jari tangan dan kaki, dan masih banyak lagi. Dokter Dian mengikuti semua keinginanku dengan sabar dan menjelaskan secara detail. Dokter Dian juga menyarankan untuk kontrol kembali pada saat usia kandunganku 34 minggu, mengingat aku sudah mendekati akhir dari kehamilanku. Di minggu ini juga pertama kalinya aku berbelanja kebutuhan si kecil. Tapi aku hanya membeli barang-barang yang sekiranya diperlukan sesaat setelah melahirkan nanti. Walaupun aku sudah mengetahui perkiraan jenis kelamin anakku, tapi semua barang yang aku beli warnanya netral jadi kalau setelah lahir ternyata jenis kelaminnya berbeda dari perkiraan, semua barang-barangnya tetap bisa dipakai :D

Pada saat usia kandunganku mendekati minggu ke-34, aku mengalami flu berat dan batuk-batuk. Tadinya, aku masih mau bertahan tanpa obat. Hanya dengan istirahat yang cukup dan banyak minum air hangat. Tapi, batuk-batuk yang aku alami semakin parah dan sering, sehingga membuatku sering mengalami kontraksi palsu yang lumayan nikmat rasanya. Karena ditakutkan kontraksi palsunya akan terus berlangsung dan berubah menjadi kontraksi asli yang mengakibatkan kelahiran prematur, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke dokter. 

Pada saat itu, tanggal 30 Desember 2017, kebetulan suamiku sedang kerja dan jadwalnya adalah pagi hari. Saat itu aku berfikir apa masih ada dokter spesialis yang praktek? Karna kan sudah mendekati tahun baru, biasanya dokter banyak yang sudah mengambil cuti. Akhirnya, aku menelfon salah satu rumah sakit yang berada dekat dengan rumahku yaitu RSIA Fatimah. Kebetulan, ada 1 dokter spesialis obgyn yang sedang praktek saat itu yaitu dokter Rachman. Biasanya aku lebih memilih kontrol ke dokter perempuan karna merasa lebih nyaman, tapi karna aku sudah merasa sangat tidak kuat akhirnya aku memutuskan untuk kontrol ke dokter Rachman walaupun aku harus pergi sendiri tanpa suamiku.

Dokter Rachman ini orangnya baik sekali, dia juga menjelaskan semuanya tanpa aku minta. Jadi pada saat akhir pemeriksaan dan dokter bertanya "ada yang mau ditanyakan bu?" Aku bilang "gak ada dok" karna memang semuanya sudah dijelaskan dengan cukup detail. Overall, aku merasa nyaman diperiksa okeh dokter Rachman. Oiya, pada saat itu aku juga diberi obat flu dan obat batuk. Tapi aku lupa namanya apa, next kalo aku ingat aku kasih tau ya :D

Di minggu-minggu ini juga aku merasa sedikit overwhelmed. Perutku yang semakin membesar, back pain setiap hari, bulak-balik ke toilet karna sering sekali buang air kecil, dan sulit menemukan posisi tidur yang nyaman adalah hal-hal yang membuatku merasa lelah. Disini peran suami sangat-sangat penting karena aku hanya tinggal berdua dengan suami. Aku ingat sekali pada hari itu, setelah solat Maghrib, suamiku menyuapiku makan malam karena memang kondisi perutku yang sedang tidak nyaman sehingga aku mudah merasa mual. Setelah beberapa suap, aku minta untuk berhenti karena aku merasa sangat mual. Pada saat aku akan mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat isya, mual yang aku rasakan sudah tidak tertahankan  lagi sehingga aku muntah dan semua makanan yang disuapi oleh suamiku tadi keluar semua. Saat suamiku pulang dari masjid, aku sedang tiduran di depan TV dalam keadaan lemas. Aku bilang pada suamiku bahwa aku baru saja muntah dan saat itu aku merasa sangat sedih dan lelah. Aku langsung memeluk suamiku dan menangis sejadi-jadinya karna aku merasa sangat lelah sekali. Lelah yang tidak bisa dideskripsikan bagaimana rasanya, lelah yang tidak bisa hilang hanya dengan tidur. Bersyukurnya aku memiliki suami yang sangat mengerti apa yang harus dia lakukan saat aku sedang down seperti itu. Ia hanya mengusap lembut kepalaku dan menyuruhku untuk tidak menahan tangisanku. Akhirnya aku menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil, mungkin aku menangis selama kurang lebih 30 menit dan setelah itu aku minta  dibelikan martabak dan akupun kembali ceria. Peran suami seperti itu memang apa yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil yang sedang mengalami mood swing. Bayangkan jika saat aku menangis suamiku malah bilang "Jangan nangis ah, kayak anak kecil!" tidak dapat aku bayangkan bagaimana hancurnya perasaanku saat itu. 

Selain menenangkan emosi kita, suami juga bisa dimintai bantuan untuk memijat punggung belakang kita ketika kita merasa tidak nyaman. Aku juga sering minta tolong suamiku untuk memijat kaki atau punggungku karena sesungguhnya pijatan suami itu cukup meredakan sakit yang kita rasakan loh!

Di minggu ke-35, akhirnya aku bisa pergi babymoon bersama suamiku. Yang aku inginkan sangat sederhana, aku ingin pergi ke pantai dan menginap di hotel yang berada di pinggir pantai.  Kebetulan rumah kami cukup dekat dengan pantai Anyer. Hanya membutuhkan kurang lebih 1 jam perjalanan menggunakan motor, kami tiba di tempat yang sangat ingin aku datangi. Disini aku main di pinggir pantai sebentar, karena tidak berani berlama-lama. Aku juga menyempatkan diri untuk berenang setelah sarapan, tentu saja di kolam renang ya bukan di pantai. Ternyata berenang sangat sangat membantu mengurangi back pain yang aku rasakan. Rasanya sangat relax sekali sampai-sampai aku tertidur di pangkuan suamiku saat berada di kolam renang. Se-relax itu guys hahaha

Pada usia kandungan 36 minggu aku kembali kontrol ke dokter Arina di RS Ummi Bogor. Dokter bilang, kondisi bayinya bagus, beratnya cukup, dan jika aku melahirkan minggu depan pun sudah aman untuk bayiku. Dokter menyarankan agar aku banyak jalan kaki dan mengikuti senam hamil setidaknya 2x agar aku tau apa yang harus aku lakukan saat menghadapi kontraksi dan tau cara mengejan yang benar saat proses persalinan nanti. Aku bertanya pada dokter apakah jalan-jalan di mall termasuk ke "jalan kaki"? Dokter berkata apabila aku jalan non-stop selama 30 menit tanpa mampir melihat-lihat ke toko-toko yang ada di mall, maka itu masuk hitungan.  Tidak perlu berjalan cepat, yang penting kita berjalan selama 30 menit. Itu yang aku lakukan baik saat jalan pagi ataupun saat jalan-jalan di mall. Dokter juga menyarankan agar aku sering berhubungan dengan suami, duduk bersila, dan jongkok berdiri untuk membantu dedek bayi agar kepalanya cepat masuk panggul. Pada minggu ini, jadwal kontrolku pun semakin dekat. Yang tadinya 2 minggu sekali  menjadi setiap minggu karena aku sudah semakin dekat dengan proses persalinanku. Sepulangnya dari dokter, aku dan suamiku menyempatkan diri untuk nonton film di bioskop dan aku merasa sangat senang sekali pada saat itu. Oiya, dari beberapa sumber yang aku baca, hormon oxytocin atau hormon yang dikeluarkan saat kita bahagia itu membantu proses persalinan lho! Jadi nggak salah dong ya aku minta ke bioskop hihi.

Di minggu ini juga aku memutuskan untuk mengikuti kelas senam hamil di RS Ummi Bogor. Kenapa aku memilih mengikuti kelas senam hamil disini? Karena insya Allah aku berencana untuk melahirkan di RS Ummi ini dan pengajar untuk senam hamilnya merupakan bidan yang bekerja di ruang persalinan. Jadi aku bisa mengenal bidannya lebih dekat sebelum persalinanku. Biaya untuk senam hamil disini adalah 25 ribu dan kita tidak perlu bawa apa-apa lagi loh karena sudah dipinjamkan baju dan matras untuk senamnya. Untuk jadwal, senam hamil ini ada setiap hari Rabu pukul 16.00 WIB dan Sabtu pukul 10.00 WIB. Tapi coba telfon dulu ya ke rumah sakitnya, karena  kadang jadwalnya ditiadakan karena ada satu dan lain hal. Sebelum memulai senam, para peserta dicek lokasi kepala anak (sudah masuk panggul atau belum) dan juga dicek denyut jantung bayi menggunakan doppler. Di senam hamil ini, kita diajarkan gerakan-gerakan untuk membantu menurunkan posisi bayi agar kepalanya masuk panggul, teknik pernafasan yang benar, senam kegel, cara merangsang kontraksi, dan juga cara mengejan yang baik. Senamnya kurang lebih selama 45 menit dan tidak melelahkan sama sekali kok! Setelah senam, ada sesi sharing dengan bidannya. Dari mulai ciri-ciri persalinan, apa yang harus dilakukan ketika ketuban pecah dini, dan lain-lain. Kita juga bisa bertanya mengenai keluhan-keluhan yang kita rasakan, pokoknya menyenangkan dan sangat membantu apalagi untuk ibu yang sedang mengandung anak pertama sepertiku.

Di minggu ke-37 aku kembali kontrol ke dokter Arina. Hasil USG menunjukkan bahwa air ketubanku mulai sedikit tapi masih cukup baik dan plasentaku sudah mulai pengapuran :( Dokter bilang penyebabnya adalah usia plasenta yang sudah matang dan memang sudah waktunya lahir. Dokter memutuskan untuk menunggu dan mengecek kondisi anakku kembali minggu depan. Dokter juga menyarankan hal yang sama untuk aku lakukan untuk membantu mempercepat proses persalinan dan untuk merangsang kontraksi.

Beberapa hari setelah kontrol, kira-kira pukul 10.40 malam setelah aku selesai membersihkan puting dan melakukan nipple stimulation, aku merasakan kontraksi yang lumayan kuat dengan durasi sekitar 40 - 50 detik dan jarak 2-3 menit. Aku berfikir, haruskah aku ke rumah sakit saat ini juga? Suamiku yang kebetulan sedang berada di Bogor pun mulai cemas. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu, melihat berapa lama kontraksi ini akan bertahan. Ternyata, kontraksinya hanya sampai menit ke 45, setelah itu hilang begitu saja. Jadi kontraksi yang aku rasakan tadi merupakan kontraksi palsu. Huhu aku merasa sedih karna aku kira aku akan bertemu bayiku sebentar lagi, tapi ternyata belum waktunya. Oiya selain yang disarankan oleh dokter, aku juga melakukan latihan-latihan kecil di birth ball ayang aku pinjam dari kerabat kami. So far, latihan-latihan di birthball ini cukup membantu dan latihan-latihan ini sangat mudah untuk dilakukan. Yang mau tahu latihannya seperti apa, bisa dicari di You Tube yaa :D

Di minggu ke-38, aku kembali kontrol ke dokter Arina. Dokter bilang pengapurannya semakin menyebar seiring dengan bertambahnya usia kandunganku. Berat janinku juga sudah menginjak angka 3 Kg namun detak jantung bayiku masih normal. Dokter bilang, bayiku maksimal bisa ditahan sampai minggu depan which is 5 Februari 2018. Kalau sampai tanggal 5 Februari belum ada kontraksi yang berarti, saat kontrol minggu depan, dokter menyarankan aku sudah mebawa pakaian dan perlengkapan lainnya karna dokter akan melakukan induksi pada hari itu. Dokter menyarankan agar aku banyak duduk bersila dan jongkok berdiri untuk memancing kontrkasi. Semuanya sudah aku lakukan, namun belum ada kontraksi yang berarti hingga saat ini. Aku hanya berfikir "mungkin dedek belum mau keluar, mungkin masih betah di dalem". Dokter menjadwalkan aku untuk kontrol pada tanggal 2 Februari untuk cek bagaimana kondisi bayiku. Ada kemungkinan juga aku akan diinduksi pada hari itu jika belum ada kontraksi juga. Saat ini aku hanya bisa berusaha, berdoa dan pasrah. Yang aku yakini, setiap anak pasti memilih bagaimana dia akan dilahirkan dan aku sebagai ibunya hanya bisa membantu dan bekerjasama dengan bayiku untuk melahirkan dia. Harapanku, seperti ibu-ibu lainnya, aku ingin melahirkan dengan normal, tanpa intervensi obat-obatan seperti induksi. Tapi balik lagi, manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan. Bagaimanapun nantinya anakku ingin dilahirkan, insya Allah mama siap nak.. karena semua pasti merupakan yang terbaik menurut Allah SWT. Mohon doanya ya teman-teman :)

Sepulangnya dari dokter, aku menyempatkan diri untuk Q Time dengan anakku. Aku pergi ke salah satu mall dan melakukan hal yang aku suka dan membuatku happy dengan harapan akan mempercepat terjadinya kontraksi. Hari itu aku membeli yoghurt kesukaanku, heavenly blush greek yoghurt rasa peach yang enaaaak sekali! Aku juga makan bebek goreng dan menyempatkan diri nonton Dilan (1990) di bioskop. Semuanya aku lakukan hanya berdua.. berdua dengan bayi yang ada di dalam kandunganku. Sepulangnya dari mall tersebut, aku merasa senang sekali. Semoga yang di dalam perut ikutan senang juga yaa hihi

Oiya, saat ini berat badanku adalah 68.7 kg yang berarti aku hanya naik 7.7 kg dari awal hamil karna berat badan sebelum hamilku adalah 61 kg :D

Mungkin ini adalah postingan terakhir mengenai perjalanan kehamilanku. Doakan aku ya teman-teman :D Postingan selanjutnya mungkin akan mengenai proses persalinanku hihi ditunggu yaa!

Terimakasih sudah menyempatkan diri membaca  semua cerita dari awal kehamilanku hingga saat ini. Semua yang aku tulis murni merupakan pengalamanku, semoga bermanfaat untuk kalian yah :) Jika ada yang ingin bertanya, bisa langsung tulis di kolom komentar yah :) Sekali lagi terimakasih semuanya :D


Love,


Z, A, and Baby ZA

Comments

  1. Hi.. Mau nanya dong, soal biaya persalinan di RS Ummi kemarin brp ya?
    Klo bisa info juga, paket kamar yg digunakan, brp malam di rs'nya dan obat / jasa apa saja yg diberikan selama diasana.
    Trims ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloo! Sorry ya baru bales karna lagi sibuk anak bayik mulai MPASI hihi. Waktu itu saya paket kelas 1. Satu kamar 2 orang tapi menurut saya kamarnya nyaman banget. Untuk ruang bersalin 1 kamar isi 3 bed. Kalo mau ruang bersalin 1 kamar sendiri bisa ambil kelas VIP. Waktu itu paket persalinan normal kelas 1 sy kena 11jt ++ saya lupa pastinya berapa. Sy dirawat dari tanggal 7 malam (mulai induksi) dan pulang tanggal 10 siang. Jadi sekitar 4 hari 3 malam ya. Kalau obat sy kurang tau, jasa ya seperti biasa dirumah sakit aja. Susternya ramah ramah dan baikkk bgt. Apalagi suster ruang bersalinnya sabar sabar bgt. Semoga membantu yaaa!

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

My first $100 as a Freelancer. Work from home mom's (Part 1)

Haiiiii momss! Setelah sekian lama nggak blogging, akhirnya ada sedikit waktu untuk berbagi cerita lagi. Kali ini aku mau cerita gimana caranya aku dapet $100 pertamaku sebagai freelancer dan kerja dirumah. Ikutin terus yaa! Tahun 2017, tepatnya bulan Juli aku resmi resign dari kerjaanku dan harus pindah kota untuk ikut suami. Rencana awal, setelah pindah kota aku masih mau kerja. Tapi ternyata alhamdulillah aku hamil dan kondisi saat itu bener-bener nggak memungkinkan buat kerja. Sekitar 3 bulan sebelum resign, aku cari-cari lowongan freelancer di kota baruku karna aku biasa ngajar les private kan jadi mikirnya ya mungkin ada lowongan les private di kota yang baru ini. Pas aku lagi searching tentang freelancer job ini, keluarlah 2 website freelancer yaitu upwork.com dan freelancer.com. Apa itu upwork.com dan freelancer.com? Aku coba jelasin sedikit ya, untuk lebih lengkapnya kalian bisa langsung ke webnya atau googling aja hehe. Jadi 2 website ini adalah website semacem j...

Mama's Honest Review: Philips Food Processor - White HR7310/00

Halo ibu, apa kabar? Hari ini aku mau cerita pengalaman aku selama menggunakan Philips Food Processor - White HR7310/00. Untuk ibu yang mau beli food processor ini, boleh banget nih bu baca reviewnya!    Philips Food Processor - White HR7310/00 sumber: www.philips.co.id Sebelumnya, mari kita sebut saja food processor ini dengan singkatan FP ya. Nah, aku beli FP ini pada bulan Mei 2022. Alasannya apa sih aku beli FP ini? Terlebih lagi saat ini banyak FP atau chopper yang harganya lebih terjangkau dibanding harga FP Philips ini. Kenapa aku tidak memilih chopper dengan  tipe mesin diatas? Aku coba jelaskan pendapatku yaa. Jadi aku memutuskan untuk beli FP karena chopper -ku yang biasa aku pakai rusak, mesinnya terbakar karena terlalu lama menyala saat pemakaian. Disini lah aku mulai cari pro dan kontra FP dengan mesin di atas dan mesin di bawah. Setelah aku baca-baca dan lihat review , aku dapat kesimpulan bahwa FP dengan mesin di atas tidak cocok untuk menghaluskan sesuat...

Honeymoon (Jogja, Kulonprogo, Gunung Kidul. Ga Capek????)

Haiiiiii!!!! Akhirnya selesai jugaa postingan tentang honeymoon ini. Honestly, aku mau post ini dari sekitar 1 tahun yang lalu. Tapi karna gak lama setelah nikah aku hamil, jadilah sharing tentang pregnancy dulu hihi maaf yaa baru sempet share :D Jadi, awalnya aku pengen banget honeymoon ke Bali atau Lombok karna aku suka banget sama pantai. Yes, I love beaches <3 . Tapi karna tanggal 28 Maret itu nyepi, akhirnya kita ganti tujuan kita jadi ke Jogja yayyyy!!!! Aku dan suami pesen tiket pesawat kalo nggak salah sih sekitar sebulan sebelum menikah, dan kita pake Air Asia. Waktu itu Jakarta-Jogja PP harganya sekitar 600 ribuan per-orang. Kita memutuskan untuk berangkat tanggal 28 Maret. Dari Serang, kita naik Damri sekitar jam 5 an. Damri dari Serang ke Soetta biasanya suka lewat indomaret patung setiap jam. Tarifnya kalo nggak salah sih 60 ribu. Lama perjalanan Serang-Soetta sekitar 2,5 jam. Jadi jam setengah 8 kita udah sampe Soetta. Padahal flight kita masih jam 10 hahaha. ...