Rabu, 7 Februari 2018 merupakan jadwal check up ku ke dokter Arina. Tadinya mau aku undur ke-hari Kamis tanggal 8 Februari 2018 agar hitungannya pas 40 minggu. Tapi entah mengapa aku merasa sangat cemas karena bisa jadi aku terlihat sehat diluar, tapi bagaimana dengan bayiku di dalam dengan kondisi plasenta yang semakin matang? Akhirnya aku memutuskan bahwa hari Rabu, aku harus ke dokter untuk mengetahui keadaan anakku.
Berat terakhirku sebelum aku melahirkan adalah 69.8 Kg tidak menyentuh angka 70 kg ternyata haha. Hari itu aku sudah mempersiapkan diri seandainya aku harus di-induksi, mengingat aku belum merasakan kontraksi yang berarti padahal umurku kandunganku sudah hampir 40 minggu. Setelah berkonsultasi dengan dokter, dokter memutuskan untuk melakukan induksi pada tanggal 7 Februari 2018. Setelah selesai check up dari dokter, aku langsung diarahkan menuju pendaftaran rawat inap dan laboraturium untuk cek darah. Setelah itu, aku diarahkan menuju ruang bersalin untuk CTG. Aku kira setelah CTG aku bisa beristirahat diruang rawat inap, tapi ternyata setelah CTG untuk pertama kalinya aku mengalami flek darah dan akhirnya tindakan induksi langsung dilakukan.
Suster memasukkan 1 tablet kecil obat yang aku kurang tau namanya apa. Bentuknya bulat dan sangat kecil. Dimasukan melalui miss V ku, sambil bidan cek sudah seberapa besar pembukaanku. Ternyata masih bukaan 1 hampir 2, dan ketubanku sudah rembes yang berarti aku harus bed rest. Sampai buang air kecil pun harus menggunakan pispot karna tidak boleh turun naik tempat tidur karena dikhawatirkan rembesnya akan semakin banyak. Suster juga memasang infus karna aku harus mendapatkan antibiotik akibat dari rembesnya ketubanku.
Setelah 30 menit dari proses dimasukannya obat, aku menikmati makan malamku. Kontraksi yang terjadi belum sering dan belum begitu kuat, jadi aku masih bisa tersenyum dan bercanda-canda. Pada saat itu, ibu dan papahku datang untuk menemaniku diruang bersalin. Sekitar pukul 9 malam, papahku pulang dan aku hanya ditemani oleh ibuku. Suamiku baru tiba kira kira pukul 12 malam setelah menempuh kira kira 3 jam perjalanan dari Serang. Jadilah ibuku dan suamiku yang menemani proses persalinanku saat itu.
Pukul 01.00 dini hari, obat kedua dimasukkan untuk memancing kontraksi yang lebih kuat lagi. Suster mengingatkan bahwa setelah dimasukkan obat yang ke-2, kontraksi akan lebih intens dan "nikmat". Aku meng-iyakan apa yang dikatakan oleh suster dan masuklah obat induksi ke-2. Saat memasukkan obat induksi ke-2, suster juga mengecek sudah seberapa besar pembukaanku dan suster bilang sudah pembukaan 2 menuju 3. Semenjak dimasukkan obat induksi ke-2, aku terus memantau jeda dan lamanya kontraksi menggunakan apps 'Contraction'. Seiring dengan berjalannya waktu, durasi dari kontraksi yang terjadi terasa semakin lama dengan jeda yang semakin pendek.
Pukul 07.00 suster mengecek sudah seberapa besar pembukaanku dan suster bilang masih di bukaan 2. Saat itu rasanya aku ingin minta SC saja pada suami karna sudah hopeless. Dari pukul 01.00 dini hari hingga pukul 07.00 pagi masih stay di bukaan 2. Padahal kontraksi yang aku rasakan semakin kuat. Suster bilang ia akan memasukkan obat yang ketiga. Disitu aku sudah terbayang akan rasa "nikmat" yang akan aku alami setelah dimasukannya obat ketiga. Baru 2 obat saja rasanya sudah tidak kuat, bagaimana jika ditambah yang ketiga? Pada saat itu aku sudah benar-benar hopeless.
Ketika aku sudah benar benar hopeless dan lelah, keajaiban terjadi. Saat suster sedang bersiap siap memasukkan obat yang ketiga, tiba tiba ketubanku pecah secara spontan. Disitu aku mulai mendapatkan semangatku kembali. Aku mulai optimis bahwa aku bisa melahirkan normal.
Setelah ketubanku pecah, "nikmat" yang aku rasakan semakin kuat. Rasa nikmatmya berbeda dari yang malam aku rasakan. Menit demi menit, kontraksi yang aku rasakan semakin intens. Yang aku rasakan bukan lagi keram seperti menstruasi hari pertama, tetapi lebih ke mules seakan akan ingin buang air besar. Seingatku, pukul 09.00 atau 10.00 aku dicek pembukaan dan sudah bukaan 5. Disitu aku mulai meracau, bicara tidak jelas kepada suami, ibu dan suster suster yang membantu. Tidak terhitung berapa kali aku berkata sudah tidak kuat lagi, ataupun minta ampun kepada ibuku karna akhirnya aku merasakan bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya.
Diantara kontraksi kontraksi yang aku rasakan, aku masih bisa tertidur sekitar 1-2 menit ketika kontraksinya hilang. Katanya itu adalah tanda-tanda bahwa bayinya perempuan.. dan ternyata benar hehehe
Kira kira pukul 10-an, aku merasa sangat ingin buang air kecil tapi tidak bisa. Akhirnya suster memasukkan selang ke kandung kemihku untuk mengeluarkan urin yang ada didalamnya. Hal ini juga membantu agar kepala bayi cepat turun dan tidak terhalang kandung kemih yang sedang penuh. Saat suster mengatakan aku sudah bukaan 7, aku merasa sangat ingin buang air besar yang tidak tertahankan. Rasanya ingin sekali mengejan, tapi suster tidak mengizinkan aku untuk mengejan karena bukaannya belum lengkap. Jika aku memaksa mengejan, jalan lahirnya akan membengkak dan pembukaannya akan turun. Akhirnya dengan sekuat tenaga aku menahan rasa 'mules' itu dan berusaha untuk tidak mengejan. Saat itu juga banyak suster yang mondar-mandir mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan. Aku melihat ada lampu besar, box bayi, dan beberapa peralatan lainnya. Pertanda sebentar lagi aku akan bertemu dengan bayiku.
Di pembukaan 7 menuju 8 juga aku dibantu oleh suster untuk mempercepat pembukaan. Dua jari suster standby di dalam untuk membantu mempercepat pembukaan. Disini aku sudah tidak dapat berfikir jernih. Jujur saja "nikmat" nya luar biasa dan aku tidak bisa menahan keinginan untuk berteriak. "Suster tolong suster", "Suster aku mules suster", "Ibu maafin aku ibu, ampun ibu", "Mas maafin aku mas, aku udah nggak kuat mas tolong", "Ya Allah ampun ya Allah sakit ya Allah", "Astaghfirullahaladzim, Allahuakbar, ya Allah" kira-kira ini yang aku katakan dalam teriakan-teriakanku. Mengingatnya membuatku sedih, terharu dan teringat kembali akan perjuanganku saat itu huhuhu
Ibu dan suamiku hanya membalas teriakanku dengan "kamu nggak boleh gitu, kamu kuat, kamu bisa. Ayo sedikit lagi ini udah bukaan 8. Jangan ngomong yang aneh-aneh, ayo semangat kamu bisa!" Sambil sesekali mereka meneteskan air mata melihatku yang sudah lelah menahan rasa nikmat selama hampir 17 jam.
Kira-kira pukul 11.00, dokter datang dan langsung bersiap-siap. Ada 1 suster masing masing di kanan dan kiriku untuk menahan kakiku agar terbuka lebih lebar. Saat dokter siap, dokter mengatakan bahwa ini baru bukaan 9, aku boleh saja mengejan tapi harus dengan sekuat tenaga. Akupun meng-iyakan. Aku mulai ambil nafas dan berusaha mengejan sekuat tenaga. Beberapa kali mengejan tapi aku belum merasa bayiku akan keluar. Ternyata teknik mengejanku masih salah. Aku mencoba terus menerus, tidak ingat berapa kali aku mengejan. Seingatku, aku mengerahkan semua tenagaku untuk mengeluarkan bayiku. Saat dokter melihatku sudah mulai lelah, tidak bisa mengejan lama dan nafasku mulai ngos-ngosan, dokter memutuskan untuk melalukan episotomy (googling aja ya apa itu episotomy). Episotomy dilakukan saat sedang mengejan dan dengan refleks aku berhenti mengejan dan berteriak. Dokter bilang jangan berhenti bu, ayo sekali lagi. Akhirnya aku mengejan sekali lagi, sekuat tenaga, dan keluarlah bayi mungil yang cantik dan langsung menangis saat itu juga. Seketika suami dan ibuku memelukku dan menangis. Akupun merasa tidak menyangka telah melakukan hal yang sangat luar biasa. Rasanya seperti sedang bermimpi.
Dokter langsung memotong tali pusar dan bayiku langsung dibersihkan dan di adzani oleh suamiku. Sedangkan aku sedang 'dirapihkan' oleh dokter. Setelah diadzani, suster meletakkan bayiku diatas dadaku untuk IMD. Rasanya seperti mimpi ketika aku memeluk bayiku. Setelah selesai, bayiku dibawa ke ruang bayi untuk ditimbang, diukur panjangnya, dihangatkan dan diobservasi selama kurang lebih 6 jam sebelum akhirnya bertemu lagi denganku.
Kira-kira pukul 12.00 aku merasa sangat lelah, lemas dan mengantuk. Maklum saja aku sudah begadang dan mengerahkan seluruh tenagaku pada saat melahirkan. Aku minta dibelikan teh kotak oleh suamiku dan juga minta disuapi makan olehnya. Setelah makan, akupun tertidur sekitar 2 jam. Suster bilang aku harus bisa tidur miring kanan kiri, duduk, dan ke kamar mandi sendiri jika ingin segera dipindahkan ke ruang rawat inap. Akhirnya aku berlatih melakukan semua itu agar aku dapat segera pindah ke ruang perawatan.
Sekitar pukul 15.00 aku sudah berada di ruang perawatan. Sudah bisa berdiri, berjalan dan duduk walaupun masih agak ngeri. Aku bertemu bayiku kembali kira-kira pukul 19.00 dan bayiku selalu berada satu ruangan denganku karna kebetulan di RS Ummi ini terdapat fasilitas rooming in.
Hari ke-2 pasca melahirkan, aku sudah bisa mandi sendiri, ke kamar mandi tanpa ditemani, mengganti popok bayiku, pokoknya hampir bisa melakukan yang biasa aku lakukan. Hanya saja masih sedikit ngeri.
Pada tanggal 10 Februari 2018, aku dan bayiku diperbolehkan pulang kerumah. Akhirnya, kebahagiaanku terasa semakin lengkap dengan hadirnya malaikat kecil ditengah-tengah keluarga kami.
Aku menulis blog ini pada tanggal 12 Februari 2018 dan aku sudah bisa memasak, mencuci pakaian, dan mengurus bayiku. Alhamdulillah pemulihannya cukup cepat. Doakan semoga aku cepat pulih dan bisa melakukan aktifitas seperti biasa.
And here I am.. 21 years old, a student, a wife and a mom of a beautiful girl.. Terimakasih ya Allah atas segala rezeki yang telah engkau berikan kepadaku dan keluargaku.
Terimakasih untuk teman-teman yang sudah mengikuti perjalananku dari awal hamil hingga saat ini. Semoga semua pengalaman yang aku ceritakan bermanfaat untuk teman teman semua.
I'll see you in another story of my life!
Love,
Z, A and Baby N❤
Berat terakhirku sebelum aku melahirkan adalah 69.8 Kg tidak menyentuh angka 70 kg ternyata haha. Hari itu aku sudah mempersiapkan diri seandainya aku harus di-induksi, mengingat aku belum merasakan kontraksi yang berarti padahal umurku kandunganku sudah hampir 40 minggu. Setelah berkonsultasi dengan dokter, dokter memutuskan untuk melakukan induksi pada tanggal 7 Februari 2018. Setelah selesai check up dari dokter, aku langsung diarahkan menuju pendaftaran rawat inap dan laboraturium untuk cek darah. Setelah itu, aku diarahkan menuju ruang bersalin untuk CTG. Aku kira setelah CTG aku bisa beristirahat diruang rawat inap, tapi ternyata setelah CTG untuk pertama kalinya aku mengalami flek darah dan akhirnya tindakan induksi langsung dilakukan.
Suster memasukkan 1 tablet kecil obat yang aku kurang tau namanya apa. Bentuknya bulat dan sangat kecil. Dimasukan melalui miss V ku, sambil bidan cek sudah seberapa besar pembukaanku. Ternyata masih bukaan 1 hampir 2, dan ketubanku sudah rembes yang berarti aku harus bed rest. Sampai buang air kecil pun harus menggunakan pispot karna tidak boleh turun naik tempat tidur karena dikhawatirkan rembesnya akan semakin banyak. Suster juga memasang infus karna aku harus mendapatkan antibiotik akibat dari rembesnya ketubanku.
Setelah 30 menit dari proses dimasukannya obat, aku menikmati makan malamku. Kontraksi yang terjadi belum sering dan belum begitu kuat, jadi aku masih bisa tersenyum dan bercanda-canda. Pada saat itu, ibu dan papahku datang untuk menemaniku diruang bersalin. Sekitar pukul 9 malam, papahku pulang dan aku hanya ditemani oleh ibuku. Suamiku baru tiba kira kira pukul 12 malam setelah menempuh kira kira 3 jam perjalanan dari Serang. Jadilah ibuku dan suamiku yang menemani proses persalinanku saat itu.
Pukul 01.00 dini hari, obat kedua dimasukkan untuk memancing kontraksi yang lebih kuat lagi. Suster mengingatkan bahwa setelah dimasukkan obat yang ke-2, kontraksi akan lebih intens dan "nikmat". Aku meng-iyakan apa yang dikatakan oleh suster dan masuklah obat induksi ke-2. Saat memasukkan obat induksi ke-2, suster juga mengecek sudah seberapa besar pembukaanku dan suster bilang sudah pembukaan 2 menuju 3. Semenjak dimasukkan obat induksi ke-2, aku terus memantau jeda dan lamanya kontraksi menggunakan apps 'Contraction'. Seiring dengan berjalannya waktu, durasi dari kontraksi yang terjadi terasa semakin lama dengan jeda yang semakin pendek.
Pukul 07.00 suster mengecek sudah seberapa besar pembukaanku dan suster bilang masih di bukaan 2. Saat itu rasanya aku ingin minta SC saja pada suami karna sudah hopeless. Dari pukul 01.00 dini hari hingga pukul 07.00 pagi masih stay di bukaan 2. Padahal kontraksi yang aku rasakan semakin kuat. Suster bilang ia akan memasukkan obat yang ketiga. Disitu aku sudah terbayang akan rasa "nikmat" yang akan aku alami setelah dimasukannya obat ketiga. Baru 2 obat saja rasanya sudah tidak kuat, bagaimana jika ditambah yang ketiga? Pada saat itu aku sudah benar-benar hopeless.
Ketika aku sudah benar benar hopeless dan lelah, keajaiban terjadi. Saat suster sedang bersiap siap memasukkan obat yang ketiga, tiba tiba ketubanku pecah secara spontan. Disitu aku mulai mendapatkan semangatku kembali. Aku mulai optimis bahwa aku bisa melahirkan normal.
Setelah ketubanku pecah, "nikmat" yang aku rasakan semakin kuat. Rasa nikmatmya berbeda dari yang malam aku rasakan. Menit demi menit, kontraksi yang aku rasakan semakin intens. Yang aku rasakan bukan lagi keram seperti menstruasi hari pertama, tetapi lebih ke mules seakan akan ingin buang air besar. Seingatku, pukul 09.00 atau 10.00 aku dicek pembukaan dan sudah bukaan 5. Disitu aku mulai meracau, bicara tidak jelas kepada suami, ibu dan suster suster yang membantu. Tidak terhitung berapa kali aku berkata sudah tidak kuat lagi, ataupun minta ampun kepada ibuku karna akhirnya aku merasakan bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya.
Diantara kontraksi kontraksi yang aku rasakan, aku masih bisa tertidur sekitar 1-2 menit ketika kontraksinya hilang. Katanya itu adalah tanda-tanda bahwa bayinya perempuan.. dan ternyata benar hehehe
Kira kira pukul 10-an, aku merasa sangat ingin buang air kecil tapi tidak bisa. Akhirnya suster memasukkan selang ke kandung kemihku untuk mengeluarkan urin yang ada didalamnya. Hal ini juga membantu agar kepala bayi cepat turun dan tidak terhalang kandung kemih yang sedang penuh. Saat suster mengatakan aku sudah bukaan 7, aku merasa sangat ingin buang air besar yang tidak tertahankan. Rasanya ingin sekali mengejan, tapi suster tidak mengizinkan aku untuk mengejan karena bukaannya belum lengkap. Jika aku memaksa mengejan, jalan lahirnya akan membengkak dan pembukaannya akan turun. Akhirnya dengan sekuat tenaga aku menahan rasa 'mules' itu dan berusaha untuk tidak mengejan. Saat itu juga banyak suster yang mondar-mandir mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan. Aku melihat ada lampu besar, box bayi, dan beberapa peralatan lainnya. Pertanda sebentar lagi aku akan bertemu dengan bayiku.
Di pembukaan 7 menuju 8 juga aku dibantu oleh suster untuk mempercepat pembukaan. Dua jari suster standby di dalam untuk membantu mempercepat pembukaan. Disini aku sudah tidak dapat berfikir jernih. Jujur saja "nikmat" nya luar biasa dan aku tidak bisa menahan keinginan untuk berteriak. "Suster tolong suster", "Suster aku mules suster", "Ibu maafin aku ibu, ampun ibu", "Mas maafin aku mas, aku udah nggak kuat mas tolong", "Ya Allah ampun ya Allah sakit ya Allah", "Astaghfirullahaladzim, Allahuakbar, ya Allah" kira-kira ini yang aku katakan dalam teriakan-teriakanku. Mengingatnya membuatku sedih, terharu dan teringat kembali akan perjuanganku saat itu huhuhu
Ibu dan suamiku hanya membalas teriakanku dengan "kamu nggak boleh gitu, kamu kuat, kamu bisa. Ayo sedikit lagi ini udah bukaan 8. Jangan ngomong yang aneh-aneh, ayo semangat kamu bisa!" Sambil sesekali mereka meneteskan air mata melihatku yang sudah lelah menahan rasa nikmat selama hampir 17 jam.
Kira-kira pukul 11.00, dokter datang dan langsung bersiap-siap. Ada 1 suster masing masing di kanan dan kiriku untuk menahan kakiku agar terbuka lebih lebar. Saat dokter siap, dokter mengatakan bahwa ini baru bukaan 9, aku boleh saja mengejan tapi harus dengan sekuat tenaga. Akupun meng-iyakan. Aku mulai ambil nafas dan berusaha mengejan sekuat tenaga. Beberapa kali mengejan tapi aku belum merasa bayiku akan keluar. Ternyata teknik mengejanku masih salah. Aku mencoba terus menerus, tidak ingat berapa kali aku mengejan. Seingatku, aku mengerahkan semua tenagaku untuk mengeluarkan bayiku. Saat dokter melihatku sudah mulai lelah, tidak bisa mengejan lama dan nafasku mulai ngos-ngosan, dokter memutuskan untuk melalukan episotomy (googling aja ya apa itu episotomy). Episotomy dilakukan saat sedang mengejan dan dengan refleks aku berhenti mengejan dan berteriak. Dokter bilang jangan berhenti bu, ayo sekali lagi. Akhirnya aku mengejan sekali lagi, sekuat tenaga, dan keluarlah bayi mungil yang cantik dan langsung menangis saat itu juga. Seketika suami dan ibuku memelukku dan menangis. Akupun merasa tidak menyangka telah melakukan hal yang sangat luar biasa. Rasanya seperti sedang bermimpi.
Dokter langsung memotong tali pusar dan bayiku langsung dibersihkan dan di adzani oleh suamiku. Sedangkan aku sedang 'dirapihkan' oleh dokter. Setelah diadzani, suster meletakkan bayiku diatas dadaku untuk IMD. Rasanya seperti mimpi ketika aku memeluk bayiku. Setelah selesai, bayiku dibawa ke ruang bayi untuk ditimbang, diukur panjangnya, dihangatkan dan diobservasi selama kurang lebih 6 jam sebelum akhirnya bertemu lagi denganku.
Kira-kira pukul 12.00 aku merasa sangat lelah, lemas dan mengantuk. Maklum saja aku sudah begadang dan mengerahkan seluruh tenagaku pada saat melahirkan. Aku minta dibelikan teh kotak oleh suamiku dan juga minta disuapi makan olehnya. Setelah makan, akupun tertidur sekitar 2 jam. Suster bilang aku harus bisa tidur miring kanan kiri, duduk, dan ke kamar mandi sendiri jika ingin segera dipindahkan ke ruang rawat inap. Akhirnya aku berlatih melakukan semua itu agar aku dapat segera pindah ke ruang perawatan.
Sekitar pukul 15.00 aku sudah berada di ruang perawatan. Sudah bisa berdiri, berjalan dan duduk walaupun masih agak ngeri. Aku bertemu bayiku kembali kira-kira pukul 19.00 dan bayiku selalu berada satu ruangan denganku karna kebetulan di RS Ummi ini terdapat fasilitas rooming in.
Hari ke-2 pasca melahirkan, aku sudah bisa mandi sendiri, ke kamar mandi tanpa ditemani, mengganti popok bayiku, pokoknya hampir bisa melakukan yang biasa aku lakukan. Hanya saja masih sedikit ngeri.
Pada tanggal 10 Februari 2018, aku dan bayiku diperbolehkan pulang kerumah. Akhirnya, kebahagiaanku terasa semakin lengkap dengan hadirnya malaikat kecil ditengah-tengah keluarga kami.
Aku menulis blog ini pada tanggal 12 Februari 2018 dan aku sudah bisa memasak, mencuci pakaian, dan mengurus bayiku. Alhamdulillah pemulihannya cukup cepat. Doakan semoga aku cepat pulih dan bisa melakukan aktifitas seperti biasa.
And here I am.. 21 years old, a student, a wife and a mom of a beautiful girl.. Terimakasih ya Allah atas segala rezeki yang telah engkau berikan kepadaku dan keluargaku.
Terimakasih untuk teman-teman yang sudah mengikuti perjalananku dari awal hamil hingga saat ini. Semoga semua pengalaman yang aku ceritakan bermanfaat untuk teman teman semua.
I'll see you in another story of my life!
Love,
Z, A and Baby N❤
Comments
Post a Comment