Skip to main content

Menjadi ibu...

Tumbuh di lingkungan dimana banyak ibu-ibu yang tetap berhasil meraih mimpinya setelah memiliki anak membuat aku percaya bahwa menikah dan punya anak tidak akan menghambatku menggapai mimpi-mimpiku. Akhirnya aku memantapkan diri menikah di usia 20 tahun dengan berpegang teguh pada harapan bahwa menikah dan punya anak tidak akan menghambatku menggapai mimpi.

Anak pertamaku lahir pada tahun 2018, disaat aku memasuki semester 5 saat menempuh studi di sebuah universitas. Ada rasa haru, senang, bahagia, tapi juga ada perasaan sedih karena kehilangan sosok diriku yang dulu. Bahkan namaku kini sudah berubah, orang-orang lebih sering memanggilku 'Mama N' dibanding namaku. 

Aku tinggal jauh dari keluargaku, merantau ke kota lain bersama suamiku. Kami hanya tinggal ber-3 saat itu dan perjalanan menjadi ibu ternyata tidaklah mudah. Terutama saat MPASI yang membuat aku kehabisan akal. Diantara segala kesulitan itu, perlahan aku mulai kehilangan diriku. Sering sekali aku bertanya, siapa aku? Apa yang aku suka? Apa hobiku?

Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba hobiku yang dulu, crocheting. Perlahan aku mulai merasa hidup, fokusku mulai kembali. Keadaan membaik dan kondisi anakku pun alhamdulillah cukup baik saat itu. Aku bahagia.

Tahun 2021, Allah mengirimku malaikat kecil lain. Saat itu aku kira aku tidak akan kehilangan diriku lagi, tapi ternyata aku mengalami hal yang sama. Aku mengalami kesulitan saat MPASI, bahkan lebih parah dibandingkan dengan anak pertamaku. Tidak jarang aku meledak, berteriak, menangis di depan anakku karena sudah tidak tahu lagi harus bagaimana.

Awal tahun 2022, aku didiagnosa 'Accute Stress Reaction' oleh psikiater dan diminta untuk rutin melakukan meditasi. Sekitar bulan Mei 2022, aku kembali konsultasi dengan psikolog karena sering mengalami serangan panik tanpa sebab. Sedang cuci piring-pun serangan panik itu bisa datang, membuat detak jantung dan nafasku jadi lebih cepat, tanganku gemetar, dan aku sangat ketakutan seperti sedang dikejar-kejar.

Sekitar bulan Agustus 2022, ada 1 malam yang benar-benar aku ingat, malam yang sangat menegangkan. Saat itu, aku sedang mengukur berat badan dan tinggi badan anak-anakku dan baru sadar ternyata Z-score berat badan anak ke-2 ku sudah > -1. Disitu aku kaget, stress, marah, bingung, kok bisa ya aku membiarkan z-score anakku sampai > -1? Aku marah, kesal dengan diri sendiri. Aku tampar mukaku berkali-kali, aku jambak rambutku karena aku merasa aku bukan ibu yang baik dan pantas untuk dihukum. Dadaku sesak, aku merasa sudah tidak pantas lagi ada di dunia ini, aku merasa tidak layak menjadi ibu dari anak-anakku. Aku merasa mereka akan lebih bahagia tanpa aku. Keinginan menyakiti diri sendiri semakin tinggi, semakin malam aku semakin takut. Aku takut secara tidak sadar aku keluar kamar dan menyakiti diriku lebih parah lagi. Rasanya malam itu aku ingin mengikat badanku di tempat tidur karena aku benar-benar takut lepas kendali.

Aku mencoba menghubungi call center into the light, tapi ternyata layanan call center mereka sedang tutup. Akhirnya aku minta suamiku yang baru tiba di kantor untuk pulang ke rumah karena aku benar-benar butuh bantuan. Ketika suamiku datang, pelukannya seperti menarik diriku kembali ke dunia nyata. Aku mulai merasa lebih tenang walau pikiranku masih sibuk sekali.

Keesokan harinya, aku  memutuskan untuk konsultasi dengan psikiater. Sesi konsultasiku berlangsung sekitar 1 jam dan tangisku pecah di ruangan konsultasi. Aku didiagnosa depresi sedang dengan kemungkinan bipolar dan harus minum obat antidepressant selama 1 bulan. Setelah minum obat, mood-ku berangsur-angsur membaik walau kadang ada saat dimana semua emosiku memuncak dan berkumpul menjadi satu. Sangat marah, sangat sedih, sangat kesal, rasa yang sangat tidak nyaman. Sebulan kemudian, aku kembali konsultasi dengan psikiater. Dokter bilang depresiku membaik, dan aku tidak mengidap bipolar melainkan 'Adjustment Disorder'. Ternyata aku masih harus minum antideppresant selama 1 bulan kedepan.

Mood-ku memang berangsur membaik walaupun ada saat dimana ketika mendekati datang bulan, puncak emosi itu datang lagi. Biasanya saat sedang seperti ini suamiku mengingatkan aku untuk melakukan grounding. Alhamdulillah, suamiku sangat support aku dalam masa penyembuhanku karena suamiku meyakini bahwa aku ini sakit dan perlu diobati. Alhamdulillah saat ini sudah 1 bulan aku tidak minum antidepressant, walau kadang masih ada puncak-puncak emosi, tapi aku sekarang sudah lebih bisa mengendalikan diriku.

Dulu sebelum menikah, aku selalu melihat ibu-ibu yang sukses berkarya. Dulu aku meyakini bahwa menikah dan punya anak tidak akan menghalangiku atau menghambatku menggapai mimpi. Hingga akhirnya aku sadar, ternyata ada ibu yang harus menunda mimpinya bahkan merelakan mimpinya demi membersamai anak-anak mereka dan ternyata akulah salah satunya. Saat ini, aku hanya berusaha meng-expose diriku dengan banyak hal. Ikut berbagai komunitas, course, mini bootcamp, untuk mengetahui kira-kira minatku dan kekuatanku ini ada dimana dengan harapan kedepannya aku bisa menggunakan kekuatanku untuk menggapai mimpiku yang tertunda.

Apakah aku bahagia? Aku bahagia bersama anak-anak dan keluargaku.. tapi aku rindu dengan aku yang dulu. Aku yang dipanggil dengan namaku, aku yang dilihat orang sebagai diriku. Bukan sebagai aku istrinya si A atau karena aku ibunya si B. Aku rindu ketika orang-orang melihatku dengan value yang aku miliki.

Dibalik semua perjuangan yang aku alami, aku sangat bersyukur karena mungkin bagi orang lain aku hanya seorang ibu, tapi ternyata bagi anak-anakku, aku adalah dunia mereka. Melihat senyuman tulus mereka, melihat mereka bertumbuh dan berkembang dengan ada aku dan suamiku disamping mereka setiap harinya membuat aku sadar bahwa mereka membutuhkanku. Maafkan mama ya nak, mama masih banyak berjuang memperbaiki diri untuk menjadi ibu yang baik dan menemukan versi terbaik dari diri mama sendiri.

Terimakasih untuk suami, teman-teman dan keluarga yang sudah sangat support selama aku mengalami masa-masa sulit ini. Aku sangat bersyukur mempunyai support system yang sangat positif dan membantu aku dalam melewati semuanya. Walau sulit, tapi aku bersyukur telah melewati semua ini karena aku yakin ini adalah yang terbaik menurut Allah dan aku yakin akan tiba waktunya dimana aku bisa bersinar lagi.

Love,

Z, A, N, Baby A
 
 
ps. kalo ada ibu-ibu yang mengalami kesulitan dan butuh teman buat bicara, feel free to reach me out on the comment section. Nanti aku temani ngobrol kalo waktunya pas *virtual hug

Comments

Popular posts from this blog

My first $100 as a Freelancer. Work from home mom's (Part 1)

Haiiiii momss! Setelah sekian lama nggak blogging, akhirnya ada sedikit waktu untuk berbagi cerita lagi. Kali ini aku mau cerita gimana caranya aku dapet $100 pertamaku sebagai freelancer dan kerja dirumah. Ikutin terus yaa! Tahun 2017, tepatnya bulan Juli aku resmi resign dari kerjaanku dan harus pindah kota untuk ikut suami. Rencana awal, setelah pindah kota aku masih mau kerja. Tapi ternyata alhamdulillah aku hamil dan kondisi saat itu bener-bener nggak memungkinkan buat kerja. Sekitar 3 bulan sebelum resign, aku cari-cari lowongan freelancer di kota baruku karna aku biasa ngajar les private kan jadi mikirnya ya mungkin ada lowongan les private di kota yang baru ini. Pas aku lagi searching tentang freelancer job ini, keluarlah 2 website freelancer yaitu upwork.com dan freelancer.com. Apa itu upwork.com dan freelancer.com? Aku coba jelasin sedikit ya, untuk lebih lengkapnya kalian bisa langsung ke webnya atau googling aja hehe. Jadi 2 website ini adalah website semacem j...

Mama's Honest Review: Philips Food Processor - White HR7310/00

Halo ibu, apa kabar? Hari ini aku mau cerita pengalaman aku selama menggunakan Philips Food Processor - White HR7310/00. Untuk ibu yang mau beli food processor ini, boleh banget nih bu baca reviewnya!    Philips Food Processor - White HR7310/00 sumber: www.philips.co.id Sebelumnya, mari kita sebut saja food processor ini dengan singkatan FP ya. Nah, aku beli FP ini pada bulan Mei 2022. Alasannya apa sih aku beli FP ini? Terlebih lagi saat ini banyak FP atau chopper yang harganya lebih terjangkau dibanding harga FP Philips ini. Kenapa aku tidak memilih chopper dengan  tipe mesin diatas? Aku coba jelaskan pendapatku yaa. Jadi aku memutuskan untuk beli FP karena chopper -ku yang biasa aku pakai rusak, mesinnya terbakar karena terlalu lama menyala saat pemakaian. Disini lah aku mulai cari pro dan kontra FP dengan mesin di atas dan mesin di bawah. Setelah aku baca-baca dan lihat review , aku dapat kesimpulan bahwa FP dengan mesin di atas tidak cocok untuk menghaluskan sesuat...

Honeymoon (Jogja, Kulonprogo, Gunung Kidul. Ga Capek????)

Haiiiiii!!!! Akhirnya selesai jugaa postingan tentang honeymoon ini. Honestly, aku mau post ini dari sekitar 1 tahun yang lalu. Tapi karna gak lama setelah nikah aku hamil, jadilah sharing tentang pregnancy dulu hihi maaf yaa baru sempet share :D Jadi, awalnya aku pengen banget honeymoon ke Bali atau Lombok karna aku suka banget sama pantai. Yes, I love beaches <3 . Tapi karna tanggal 28 Maret itu nyepi, akhirnya kita ganti tujuan kita jadi ke Jogja yayyyy!!!! Aku dan suami pesen tiket pesawat kalo nggak salah sih sekitar sebulan sebelum menikah, dan kita pake Air Asia. Waktu itu Jakarta-Jogja PP harganya sekitar 600 ribuan per-orang. Kita memutuskan untuk berangkat tanggal 28 Maret. Dari Serang, kita naik Damri sekitar jam 5 an. Damri dari Serang ke Soetta biasanya suka lewat indomaret patung setiap jam. Tarifnya kalo nggak salah sih 60 ribu. Lama perjalanan Serang-Soetta sekitar 2,5 jam. Jadi jam setengah 8 kita udah sampe Soetta. Padahal flight kita masih jam 10 hahaha. ...